Vaksin Corona

AEOMedia.com, Kesehatan – Kepala Divsi Surveilans dan Uji Klinik Biofarma, Novilia Sjafri Bachtiar menjelaskan mengapa uji klinis tahap ketiga Vaksin Corona harus dilakukan pada masyarakat di dalam negeri.

PT Bio Farma menjelaskan pihaknya mesti melakukan tes uji klinis vaksin Sinovac yang didatangkan dari China demi memastikan vaksin Covid-19 tersebut aman untuk orang Indonesia. Tes itu juga bagian penting buat pengembangan vaksin sebab virus corona bisa bermutasi di tiap negara.

“Jadi kita mesti yakin apakah benar vaksin yang kita beli ini benar-benar aman diberikan kepada orang Indonesia,” kata Novilia saat acara Inovasi Indonesia dalam Menghadapi Pandemi secara virtual, Rabu (29/7).

“Kenapa sih harus uji klinis di Indonesia, kenapa kita dijadikan kelinci percobaan? Padahal sebenarnya mempercepat proses kita terhadap pengembangan vaksin tersebut,” tambahnya.

Bio Farma pada Juli lalu telah mengimpor 2.400 vaksin dari perusahaan asal China, Sinovac Biotech Ltd. Uji klinis tahap ketiga akan dilakukan di Bandung, Jawa Barat untuk 1.600 dosis vaksin dengan periode Juli-September 2020.

Pada tahap preklinis, antigen vaksin diperiksa kestabilannya, baik secara fisik maupun kimia. Hasilnya, vaksin tersebut secara fisik dan kimia sudah stabil.

Vaksin Covid-19 juga sudah diujicoba kepada hewan. Hasil pengujian menunjukkan vaksin yang disuntikkan ke hewan tetap aman dan membentuk zat anti.

Setelah dinyatakan aman dan bekerja pada hewan, vaksin kemudian diujicobakan ke manusia.

Bila uji klinis berhasil dan bisa diproduksi, maka masa produksi akan berlangsung pada Oktober dengan target 10 juta dosis per bulan. Dengan begitu kapasitas produksi mencapai 120 juta dosis per tahun untuk tahun depan.

Selain Bio Farma, pengembangan vaksin tengah dilakukan antara PT Kalbe Farma dengan Genexine Consortium Korea Selatan. Uji klinis tahap pertama sudah dilangsungkan keduanya di Korea Selatan pada Juni 2020.

Saat ini, keduanya tengah melangsungkan uji klinis tahap kedua dan rencananya akan masuk tahap ketiga pada September 2020 sampai Maret 2021.

Bila uji klinis selesai, produksi ditargetkan mencapai 50 juta dosis per tahun dan persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) ditargetkan keluar pada Agustus 2021.

Bio Farma juga diketahui bekerja sama terkait vaksin dengan Koalisi untuk Inovasi Persiapan Epidemi (Coalition for Epidemic Preparedness Innovation/CEPI). Ini merupakan kerja sama antara pemerintah dan swasta di tingkat global yang berbasis di Norwegia.

Bentuk kerja sama ini berupa transfer teknologi formulasi vaksin yang telah dikembangkan oleh CEPI ke Bio Farma. Targetnya, Bio Farma bisa menjadi satu di daftar 10 perusahaan yang bisa memproduksi vaksin CEPI pada masa mendatang.

Terakhir, kerja sama antara PT BCHT Bioteknologi Indonesia dengan China Sinopharm International Corporation (Wuhan Institute of Biological Product). Kerja sama ini berupa uji klinik tahap pertama dan kedua di RS Rujukan Covid-19 dan sudah dimulai di China sejak April 2020.