Google sedang berusaha mengajukan permohonan lisensi kepada pemerintah Amerika agar bisa kembali rujuk dengan Huawei. Hal in imenyusul dimasukannya Huawei kedalam daftar hitam terkait perdagangan dengan AS sejak tahun lalu.

Sanksi itu membuat perusahaan AS tidak boleh bekerja sama dengan raksasi teknologi asal Tiongkok itu seperti dikutip Tech Radar.

Wakil Presiden Google Play dan Android Sameer Samat mengungkapkan kabar tersebut kepada media Jerman, Deutsche Presse-Agentur. Namun, ia tidak memerinci kapan keputusan itu diambil.

Keinginan untuk kembali bekerja sama itu disampaikan beberapa hari setelah Google memberi peringatan kepada pengguna Huawei. Google meminta konsumen untuk tidak mengunduh aplikasi YouTube hingga Gmail, lalu dikirim ke ponsel Huawei.

Alasannya, Huawei tak mendapat sertifikat resmi Google. Dengan begitu, aplikasi yang diunduh di ponsel tersebut tidak didukung layanan keamanan Google.

Pada akhir tahun lalu, pemerintah AS juga memberikan lisensi kepada Microsoft untuk melanjutkan pengiriman sistem operasi Windows untuk produk laptop Huawei, seperti MateBook 13. Google mengajukan hal serupa.

Sedangkan, Huawei mulai mengembangkan sendiri toko aplikasi, sistem operasi hingga prosesor karena tidak bisa bermitra dengan perusahaan AS. Bahkan, Huawei mengklaim toko aplikasinya yaitu AppGallery menempati peringkat ketiga di dunia.

Dalam keterangan resmi yang dikutip dari 9to5Google, Huawei menyebut bahwa peringkat AppGallery di bawah Apple App Store. Sedangkan posisi pertama ditempati oleh Google Play Store.

“App Gallery peringkat ketiga dunia, dengan lebih dari 400 juta pengguna bulanan aktif (Monthly Active Users/MAU),” demikian dikutip dari 9to5Google, hari ini (26/4). Platform itu juga memiliki lebih dari 55 ribu kelompok aplikasi.

Huawei mengaku telah menghabiskan US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun untuk meningkatkan basis data pengembang. Dana itu juga dipakai untuk mengembangkan AppGallery.