Indeks Harga Saham Gabungan Atau IHSG Indonesia jatuh lebih dari 2,6 % dengan nilai transaksi sampai dengan Rp 7 Triliun lebih. Koreksi IHSG ini menjadi yang terdalam setidaknya sejak April 2017 yang ketika itu secara bulanan minus di level 5.685.

Mengacu data BEI, dalam 5 hari perdagangan (21-27 Februari), IHSG mencatatkan pelemahan secara beruntun. Sebanyak 77 saham menguat, 335 saham melemah dan sisanya stagnan dan tidak diperdagangkan.

Investor asing keluar hingga Rp 1,05 triliun dalam sehari di semu pasar, terbagi atas net sell di pasar reguler Rp 904,22 miliar dan Rp 141,86 miliar di pasar nego dan tunai.

Koreksi IHSG ini membuat kinerja secara year to date atau tahun berjalan sudah ambles hingga 12,13% bahkan baru 2 bulan di 2019. Meski demikian, kabar baiknya, masih ada lima saham dengan penguatan cukup besar pada penutupan perdagangan Kamis kemarin:

PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC)
Saham ITIC naik 9,66% di level Rp 1.760/saham dengan nilai transaksi Rp 19,1 miliar dan volume 12,6 juta saham. Year to date saham ITIC minus 32,1%.

PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA)
Saham CSRA menguat 9,09% di level Rp 600/saham dengan nilai transaksi Rp 5,16 miliar dan volume perdagangan 9,03 juta sahan. Year to date belum ada pergerakan karena baru tercatat di BEI di awal tahun ini. Sebulan terakhir saham CSRA naik 13,21%. Emiten sawit ini tercatat pada 9 Januari 2020 dengan melepas 410 juta saham baru atau setara 20% dari modal yang ditempatkan dan disetor dengan harga penawaran umum Rp 125/saham.

PT Dewata Freightinternational Tbk (DEAL)
Saham DEAL naik 9,09% di level 204/saham, dengan nilai transaksi Rp 37,67 miliar dan volume perdagangan 187,03 juta saham. Year to date saham perusahaan logistik ini naik 13,33%.

PT Sky Energy Indonesia tbk (JSKY)
Saham JSKY naik 5,515% di level Rp 134/saham, dengan nilai transaksi Rp 6,99 miliar dan volume perdagangan 53,51 juta saham. Year to date saham JSKY minus 36,19%.

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)
Saham MDKA naik 3,82% di level Rp 1.360/saham dengan nilai transaksi Rp 150,72 miliar dan volume perdagangan 111,97 juta saham. Year to date naik 27,10%.

Analis teknikal PT Henan Putihrai Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan secara teknikal, pelaku pasar perlu mencermati gerak indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di bursa Wall Street AS yang sudah mendekati batas tahanan bawah alias level support.

“DJIA sudah mendekati support area di range 26.800-26.700 (approximately 250 pts to go), di mana itu adalah target turun dari pola double top (biru) sekaligus lokasi tarikan trendline mid-term (kuning); di saat RSI telah memasuki area oversold [jenuh jual],” kata Liza kepada CNBC Indonesia, Kamis (27/2/2020).

Dia mengatakan, seharusnya technical rebound atau pembalikan DJIA bisa terjadi dalam 1-2 hari ke depan, apalagi setelah penurunan 3 hari yang cukup drastis.

“Potensi rebound diperkirakan mampu mencapai level 27.350, or otherwise we will see DJI at next Support of 26.400,” katanya lagi sambil menjelaskan level batas bawah DJIA ke depan.

Adapun soal IHSG dalam sepekan ini, Liza mengatakan secara teknikal, “target turun dari Parallel Channel (biru) terbentang di level 5.500. Bantalan support IHSG benernya sudah mulai diharapkan starting from 5.670 sampai 5.550, yang merupakan area previous Lows [level terendah sebelumnya] sekaligus Neckline pola Double Top besar!”

Dia menjelaskan bahwa ini adalah level support IHSG yang krusial sekali untuk dijaga jangan sampai tertembus, “karena inilah yang akan menentukan apakah trend jangka panjang IHSG menjadi turun, atau masih terselamatkan dalam sideways [gerak menyamping],” katanya.

“Kalau Neckline-nya sampai tertembus, artinya support [batas bawah] 5.500 sampai jebol, maka akan menghasilkan target turun yang lumayan jauh,” kata Liza.

Dalam kesempatan sebelumnya, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo mengatakan, terus melakukan pemantauan terhadap gerak IHSG.

“Kami melalukan pemantauan apalagi index turun lebih dari 2 persen,” kata Laksono Widodo, Kamis (27/2020).

Sebelumnya, BEI juga telah menyiapkan protokol krisis untuk mengantisipasi pergerakan IHSG yang terus mengalami koreksi dalam satu hari. Namun, dia menegaskan, untuk koreksi hari ini belum termasuk protokol krisis.

“Belum masuk protokol krisis, tapi berjaga-jaga,” kata dia.