Lanjutan dari film teman tapi menikah yakni TTM 2 sudah dirilis. Sequel pertamanya dirilis pada tahun 2018 lalu. Sequel pertama termasuk mendapatkan respon cukup bagus dari penonton karena sudah ditonton lebih dari 1,65 juta penonton.

Pencapaian ini menempatkan karya Rako Prijanto di peringkat keenam dalam daftar film Indonesia terlaris 2018. Teman Tapi Menikah 2 diharapkan menyusul jejak sukses pendahulunya.

Sayang, Teman Tapi Menikah 2 tak berhasil mempertahankan keseluruhan pemain khususnya pemeran utama. Mampukah Teman Tapi Menikah 2 mencetak box office tahun ini?

Teman Tapi Menikah 2 menandai babak baru kehidupan Ayudia Bing Slamet (Mawar) dan Muhammad Pradana Budiarto (Adipati) alias Ditto Percussion. Keduanya menikah namun tak berencana punya momongan dalam waktu dekat. Ayudia dan Ditto ingin mencicipi manisnya pacaran mengingat mereka terjebak zona pertemanan selama 13 tahun lebih.

Nasib berkata lain. Belakangan, Ayu sering mempermasalahkan hal-hal kecil dari Ditto bangun kesiangan hingga baju kotor yang berceceran di kamar. Seringnya Ayu terbawa perasaan gara-gara hal kecil membuat Ditto curiga istrinya berbadan dua. Benar saja. Hasil diagnosis dokter menunjukkan Ayu hamil.

Pasangan ini terjebak di antara sedih dan bahagia. Belum pernah hamil, Ayu minta pendapat ibunya (Vonny) dan ibunda Ditto (Sari). Bukannya makin tenang, Ayu malah gelisah. Benarkah persalinan sesakit itu? Ayu lantas menggagas ide melahirkan di Bali dengan bantuan bidan Robin (Lili SP). Rencana ini membuat keluarga besar syok.

Film ini menampilkan tema lebih serius dan spesifik, yakni kesiapan mental punya anak. Sebuah tema yang belum tentu remaja bisa menerima mengingat tak semua belia terkoneksi pada mimpi pernikahan apalagi punya momongan.

Rako Prijanto dan penulis naskah Johanna Wattimena menyederhanakan tema dengan fokus pada fluktuasi hubungan kedua tokoh utama. Di tengah fluktuasi, mereka menyisipkan sejumlah komedi yang berakar pada jungkir balik Ditto memahami perubahan hormon istri. Sampai di sini, Teman Tapi Menikah 2 terasa menarik.

Memasuki tiga per empat film, pergerakan cerita sempat mengendur. Rako dan Johanna memanfaatkan sejumlah tokoh pemain band Ditto untuk menopang karakter utama.

Ini tergambar gamblang lewat dialog pertanyaan lengan capai baiknya dipotong atau dipijat, dan seterusnya. Lebih dari 80 persen film ini menampilkan Adipati dan Mawar. Itu sebabnya, hubungan Ayu-Ditto terasa lebih intens di jilid kedua. Adipati tampak relaks dan menikmati peran.

Ditto di tangan Adipati setidaknya memainkan dua peran penting. Pertama, upaya memahami perubahan hormon istri sebagai “sumber konflik.” Kedua, ia pada suatu masa menjadi sumber konflik, tepatnya konflik batin.

Ada kalanya, suami merasa istri lebih sayang janin ketimbang pasangan. Di titik ini, pasutri harus menempatkan sudut pandang cinta dan kasih secara bijak. Dengan akar komedi romantis, Teman Tapi Menikah 2 berhasil mengeksekusi topik ini momen pillow talk yang menggemaskan.

Kejutan datang dari Mawar De Jongh. Terpelanting saat diadu dengan Sha Ine Febriyanti di Bumi Manusia, akting Mawar mekar dengan elok di sini. Gestur dan ekspresinya memantulkan citra labil, kadang menyebalkan namun tak layak dibenci, dan di banyak fase membuat kita berempati.

Hamil tanpa referensi membuatnya seperti orang buta mencari jalan dengan bantuan seadanya, dalam hal ini, suami yang juga bingung. Gesekan di antara keduanya mengukuhkan fondasi drama. Sementara sejumlah tokoh pendukung menciptakan efek santai. Tujuannya, agar penonton tidak kelelahan di bombardir konflik.

Yang juga tak kalah penting, lagu tema. Selain membangun suasana, sejumlah lagu mampu mewakili kata-kata yang tak terucap dari bibir para tokoh. Dengan kata lain, mengekspresikan perasaan kepada penonton.

Menarik ketika sineas rako Prijanto menggunakan lagu berbahasa India karya Meher Vijay Chandiramani berjudul “Tvameva Mata (Mantra).”

Nomor ini membuktikan bahwa sejatinya, musik adalah bahasa universal. Tanpa memahami 100 persen lirik, kita bisa merasakan emosi yang tersimpan di dalamnya.

Teman Tapi Menikah 2 sekali lagi menyajikan tema serius. Tak semua remaja terkoneksi dengan kondisi psikologis pasutri jelang punya momongan. Namun, film ini akan menjadi referensi mereka di masa depan. Topik serius ini dieksekusi dengan tak kalah serius oleh Rako dan tim. Tak heran jika hasilnya semenarik dan seniat ini.

Kesan berbeda kita dapat dari jilid sebelumnya. Menampilkan kisah klasik cinta dua remaja yang berakhir bahagia tapi dikemas dengan visual, akting, dan penyuntingan penuh gaya. Ia menjadi kisah cinta yang keren pada tahunnya.