AEOMedia.com, Kesehatan – Surabaya sebagai Ibu Kota Jawa Timur menjadi daerah dengan kasus covid-19 tertinggi di bandingkan dengan beberapa kota yang ada di sekitarnya. Tercatat ada 2 Kecamatan dengan Jumlah Pasien Corona Tertinggi di Surabaya

Camat Rungkut Yanu Mardianto mengatakan, pihaknya sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat di wilayah perkampungan, perumahan, pasar maupun pertokoan.

Sosialisasi itu sebelum pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). “Tapi dalam prosesnya itu kami menemui berbagai kendala di lapangan,” kata Yanu Mardianto kepada Antara di Surabaya, Minggu (24/5/2020).

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Surabaya, terdapat 10 kecamatan di Surabaya yang mengalami peningkatan jumlah pasien Covid-19.

Masing-masing yakni Kecamatan Rungkut 180 pasien; Krembangan 172 pasien; dan Tambaksari 101 pasien.
Kemudian, Sawahan 87 pasien; Wonokromo 85 pasien; Gubeng 76 pasien; dan Bubutan 73 pasien. Kemudian, Kecamatan Mulyorejo 58 pasien; Tegalsari 55 pasien; dan Sukolilo 54 pasien.

Tingkat kelurahan Sedangkan di tingkat kelurahan, ada 10 wilayah yang memiliki cukup banyak pasien corona. Masing-masing yakni di Kelurahan Kemayoran 113 pasien; Kalirungkut 75 pasien; Kedung Baruk 61 pasien; dan Jepara 40 pasien.

Kemudian, Kelurahan Ngagel Rejo 39 pasien; Banyu Urip 37 pasien; Mojo 31 pasien; Morokrembangan 27 pasien; Mulyorejo 26 pasien; dan Ketintang 24 pasien. Mengalami kendala Menurut Yanu, pihaknya menemui berbagai kendala di lapangan.

Misalnya, ada yang sulit diajak berkomunikasi dan merasa acuh. Meski begitu, menurut Yanu, pihaknya tidak menyerah untuk tetap menyampaikan sosialisasi kepada masyarakat.

“Kewajiban kita tetap menyampaikan sosialisasi kepada masyarakat agar mereka paham terhadap aturan-aturan PSBB. Ketika ada yang melakukan pelanggaran juga kita tindak,” ujar dia.

Selain itu, pihaknya bersama puskesmas juga aktif melakukan pelacakan di lapangan. Ketika diketahui ada warga yang terkonfirmasi positif Covid-19 dan masih berada di rumah, maka ia berkolaborasi dengan RT/RW dan pekerja sosial untuk menjemput pasien dan dibawa ke rumah sakit. Hal sama juga dialami Camat Krembangan Agus Tjahyono.

Ia mengatakan, pada Dinkes Surabaya menggelar rapid test massal, banyak warga yang tiba-tiba menghilang dari rumahnya. “Jadi pada saat tes cepat, banyak yang hari H itu mereka menghilang dari kampungnya.

Ibaratnya, dari sekitar 50 orang, yang datang itu hanya sekitar 30 orang. Jadi 20 di antaranya itu ternyata saat kami cari di rumahnya itu tidak ada,” kata Agus.

Tak hanya itu, Agus mengaku kesulitan saat proses mobilisasi warga ke rumah sakit untuk dilakukan isolasi. Menurut dia, ada saja warga yang menolak saat dirawat dan diisolasi ke rumah sakit.