Kabar pengunduran diri Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad tentu sebuah kabar mengejutkan. Keputusan ini dituangkan dalam sebuah surat yang diberikan langsung kepada Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri’ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah.

Alasan Pengunduran diri dari Mahathir ini masih belum ada yang tahu, dan mulai muncul berbagai macam spekulasi.

Sebab sebelum Mahathir mengirim surat pengunduran diri, Partai Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM) yang menaunginya memutuskan keluar dari koalisi pemerintah Pakatan Harapan (PH) yang berkuasa.

Rencana keluarnya PPBM dari koalisi PH itu memicu spekulasi bahwa partai yang menaungi Mahathir itu akan bergabung dengan mantan musuhnya untuk membentuk pemerintahan baru dan menghalangi Anwar Ibrahim untuk menempati kursi PM Malaysia.

Diketahui bahwa PPBM membentuk koalisi bersama Partai Keadilan Rakyat (PKR) yang dipimpin Anwar, juga dengan Partai Tindakan Demokratis (DAP) dan Partai Amanah dalam pemilu 2018 untuk melengserkan koalisi Barisan Nasional yang dipimpin UMNO, yang saat itu diketuai eks PM Najib Razak.

Di luar spekulasi politik itu, ada beberapa fakta yang menarik dari sosok Mahathir saat masih menjadi PM Malaysia. Selain itu ada juga hubungan antara RI dengan Malaysia yang terjalin saat dia menjabat.Mundur Saat Ekonomi Malaysia Sedang Merosot

Mahathir sendiri menjabat sebagai PM Malaysia sejak Oktober 2018. Itu kedua kalinya dia menjadi PM Malaysia, sebelumnya dia sudah menjadi pada periode 1981-2003.

Kinerjanya di bidang ekonomi pada tahun terakhirnya kurang menggembirakan. Melansir Reuters, Bank Negara atau bank sentral Malaysia mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Malaysia di kuartal IV-2019 hanya 3,6%.

Pertumbuhan itu merupakan pertumbuhan ekonomi paling lambat dalam satu dekade terakhir. Penyebabnya lantaran output yang lebih rendah dari minyak sawit, minyak mentah dan gas alam, serta penurunan ekspor di tengah perang dagang AS-China.

Laju pertumbuhan ekonomi itu juga lebih lambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi Malaysia di kuartal III-2019 sebesar 4,4%. Angka itu juga jauh di bawah perkiraan dalam pooling yang dilakukan Reuters yakni 4,2%.

Jika dilihat secara setahun penuh, pertumbuhan ekonomi Malaysia di 2019 juga hanya 4,3%. Angka pertumbuhan itu paling rendah sejak 2016. Angka itu juga jauh di bawah proyeksi pemerintah Malaysia 4,7%.

Meski begitu, neraca dagang Malaysia masih dalam keadaan prima. Ekspor Malaysia naik untuk pertama kalinya dalam lima bulan pada bulan Desember 2019. Hal itu karena meningkatnya permintaan untuk barang-barang manufaktur dan pertanian.

Ekspor tumbuh 2,7% dari tahun sebelumnya, dibandingkan dengan perkiraan penurunan 1,0% oleh analis yang disurvei dalam jajak pendapat Reuters.

Sementara impor Malaysia pada Desember 2019 naik 0,9% dari tahun sebelumnya. Sementara pada November 2019 impor Malaysia turun 3,6%.

Neraca dagang Malaysia pada 2019 pun surplus 12,6 miliar ringgit (US$ 3,06 miliar), naik dari 6,5 miliar ringgit pada bulan sebelumnya.

Berapa gaji Mahathir saat jadi PM Malaysia?

Berapa Gaji Mahathir Saat Jadi PM Malaysia?

Saat menjadi PM Malaysia, gaji Mahathir terbilang biasa saja, meskipun tentu masih lebih besar dari para menterinya.

Dari catatan detikcom, dilihat dari situs parlemen Malaysia, gaji bulanan perdana menteri yakni RM 22.827 (sekitar Rp 74,8 juta), wakil perdana menteri RM 18.168 (sekitar Rp 59,5 juta), menteri RM 14.907 (sekitar Rp 48,8 juta) dan wakil menteri RM 10.848 (sekitar Rp 35,5 juta).

Meski gajinya tak seberapa, Mahathir membuat gebrakan yang jadi sorotan ketika belum lama menjabat sebagai PM Malaysia untuk kedua kalinya. Dia mengumumkan memangkas gaji seluruh menteri di kabinetnya sebagai upaya mengurangi utang negara yang mencapai 1 triliun Ringgit.

Tak tanggung-tanggung, Mahathir memangkas 10% gaji dari masing-masing menteri. Selain mengurangi utang, pemangkasan gaji juga bertujuan untuk mengurangi pembelanjaan pemerintah.

Keputusan itu diambil setelah Mahathir menyalahkan pemerintahan sebelumnya yang dipimpin oleh Najib Razak, atas membengkaknya utang negara.

“Saya sudah diberitahu bahwa utang kita sebenarnya 1 triliun Ringgit, tetapi hari ini kita bisa mempelajari dan mencari cara untuk mengurangi utang ini. Potongannya adalah pada gaji pokok menteri. Ini untuk membantu keuangan negara,” ujar Mahathir saat konferensi pers usai memimpin rapat mingguan Kabinetnya yang pertama sejak dilantik menjadi PM pada 10 Mei 2018.

“Ini telah menjadi praktik saya. Saya juga melakukan hal yang sama ketika saya menjadi perdana menteri pada tahun 1981,” imbuh Mahathir seperti dilansir media Malaysia, The Star, Rabu (23/5/2018).

Duet Dengan Jokowi Lawan Uni Eropa

Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad memiliki hubungan baik dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Selain pernah jajal mobil bareng, kedua pimpinan negara ini juga kompak menghadapi Uni Eropa terkait pelarangan produk sawit.

Jokowi dan Mahathir pada 7 April 2019 yang lalu menandatangani surat keberatan terkait pelarangan sawit oleh Uni Eropa. Surat itu pun resmi dilayangkan kepada Uni Eropa.

“Kemarin, Presiden sudah menandatangani surat bersama antara Presiden Joko Widodo dan Prime Minister Mahathir tentang keberatan kita mengenai rencana dari Uni Eropa mem-banned sawit dunia,” kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (8/4/2019).

Luhut tidak merinci isi surat tersebut. Namun, dia mengatakan isi surat itu memberikan pernyataan yang tegas soal sikap masing-masing negara.

Indonesia menyatakan keberatan terkait pelarangan ini terutama karena menyangkut nasib banyak petani Indonesia. Setidaknya, 27 juta orang bergantung pada sawit.

“Keberatan itu dari kaca mata kita karena itu menyangkut nasib dari sekitar 27 juta petani Indonesia secara langsung maupun tidak langsung,” ujarnya.

Berkaitan lingkungan, Luhut melanjutkan, pemerintah tidak akan mengambil kebijakan yang merugikan generasi yang akan datang. Dia bilang, pemerintah telah melakukan moratorium lahan baru.

Luhut pun mengimbau agar para lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk mendukung kebijakan pemerintah soal sawit.

Mahathir dan Jokowi juga pernah bersama-sama semobil bareng. Nah yang menarik adalah Jokowi disupirin Mahathir saat mencoba mobil nasional Malaysia tersebut tersebut.

Kejadian itu saat Jokowi melakukan kunjungan ke Malaysia pada Agustus 2019. Saat itu Jokowi berkesempatan untuk menjajal mobil merek Malaysia Proton Persona.

Jokowi disopiri Mahathir dari Bangunan Perdana Putra menuju Seri Perdana untuk makan siang bersama. Jokowi duduk di depan bersama dengan Mahathir. Jokowi juga sempat membuat vlog saat disupiri Mahathir.

Bapak Tun Mahathir sungguh pemimpin senior yang enerjik dan pekerja keras. Bukan hanya soal urusan negara, mobil pun beliau setir sendiri. Bisa ngebut juga. Ini kali kedua saya menumpang di mobil yang dikemudikan Bapak Tun Mahathir,” cuit Jokowi lewat akun Twitter-nya @jokowi.

Dalam v-log itu, Jokowi tampak duduk di samping kemudi. Pemimpin kedua negara serumpun ini tampak akrab dalam mobil yang melaju dengan pengawalan. Di v-log itu, Mahathir tampak melambaikan tangan saat kamera diarahkan Jokowi ke dirinya.

“Setir sendiri, ngebut juga. Inilah beliau, pemimpin senior yang masih enerjik, kerja keras dari pagi siang dan malam. Dan masih setir mobil sendiri,” kata Jokowi.