Berlatih dan Bermain Tanpa Drama Yang Tak Perlu – AEOmedia

  • Whatsapp
Jawapos TV

AEOmedia.com | Liga Indonesia : Berlatih dan Bermain Tanpa Drama Yang Tak Perlu, Dunia olahraga memang tidak akan pernah ada habisnya jika di bahas, dan uniknya lagi selalu ada hal baru di dalam dunia sepakbola di indonesia, Simak Gan: Berlatih dan Bermain Tanpa Drama Yang Tak Perlu.

Saat kompetisi di tanah air entah kapan dimulai, Brylian Aldama dan Asnawi Mangkualam mulai memetik buah keberanian mereka keluar dari zona nyaman.

Read More

DI Rijeka, matahari Kroasia turun ke peraduan. Di pangkuan Teluk Kvarner, di hadapan Laut Adriatik.

Di jantung kota pelabuhan itu biasanya Brylian Aldama dan David Maulana menghabiskan waktu-waktu senggang. Menikmati lanskap kota yang terpilih sebagai Kota Budaya Eropa 2020 itu, di sela jadwal latihan dan pertandingan di HNK Rijeka, meski makanan masih menjadi masalah bagi mereka.

”Tak ada restoran Indonesia di sini. Tapi, kalau perut lapar, apa saja masuk hehehe,” kata Bryli, sapaan akrab Brylian, dalam perbincangan dengan Jawa Pos melalui WhatsApp Rabu lalu (21/7).

Milan tak terlalu jauh dari Rijeka. Muenchen juga masih dapat dijangkau dari kota pelabuhan di sebelah barat Kroasia tersebut.

Bryli tak mengatakannya. Tapi, mungkin saja di sela-sela waktu senggang itu, atau ketika beristirahat di apartemen yang mereka tempati berdua, dia dan David bicara tentang Inter, AC Milan, atau Bayern Muenchen, dan bagaimana rasanya bermain untuk klub-klub raksasa itu…

Ya, kenapa tidak. Dua pilar timnas U-16 saat menjuarai Piala AFF U-16 itu memang saat ini masih bermain untuk skuad U-19 HNK Rijeka. Tapi, berada di sana, berlatih dan bermain di liga yang ditata secara profesional, jelas lebih mendekatkan mereka dengan mimpi-mimpi itu ketimbang bertahan di sini. Ya, di sini, negeri dengan kompetisi yang hanya Tuhan yang tahu kapan dimulai.

Baca :  Timnas Indonesia akan Bawa Lima Pemain yang Berkarier di Luar Negeri - AEOmedia

HNK klub tersukses ketiga di Kroasia. Dan, Bryli juga berperan besar dalam keberhasilan HNK merebut gelar Liga Kroasia U-19.

Mantan gelandang di skuad junior Persebaya Surabaya itu bermain dalam 12 dari total 20 laga yang dijalani HNK dan mencetak empat gol. Bryli yang tercatat sebagai pemain HNK sejak November 2020 tak bisa bermain penuh karena baru bisa datang ke Kroasia pada April lalu akibat kendala pandemi Covid-19.

”Saya bermain di Kroasia ini jelas keuntungan besar. Karena bagi pemain bola, yang dibutuhkan adalah pertandingan untuk menunjukkan hasil latihan,” tuturnya.

Per bulan jebolan SMAN 4 Sidoarjo, Jawa Timur, itu dibayar sekitar Rp 250 juta. Jauh sekali di atas rata-rata gaji pemain bintang di Liga 1 sekalipun, apalagi untuk seorang pesepak bola 19 tahun.

Baca juga: Pemain 19 Tahun Indonesia Direkrut Tim Divisi Teratas Liga Kroasia

”Tapi, harap diketahui, di sini (Kroasia) kebutuhan hidup jauh lebih mahal,” katanya.

Biaya apartemen yang tidak ditanggung klub, misalnya. Dalam sebulan, Bryli harus merogoh kocek pribadi Rp 18 juta untuk ongkos sewa. Beruntung dia kemudian bisa berbagi biaya itu dengan David yang datang belakangan.

Begitu gaji ditransfer, sebagian langsung dikirimkan ke orang tuanya di Sidoarjo. ”Saya kan punya bisnis clothing. Jadi, sebagian gaji buat modal,” katanya.

Bisnis clothing bernama Bry’s.co itu berada di Surabaya. Sekarang dijalankan sang papa, Yusyanto. Selain untuk tambahan modal, Bryli mengirim uang lebih untuk sang papa.

Baca :  Pemain 19 Tahun Indonesia Direkrut Tim Divisi Teratas Liga Kroasia - AEOmedia

”Alhamdulillah, saya punya papa yang pintar dan bisa atur uang saya. Jadi, saya bisa fokus ke lapangan,” katanya.

Sebab, memang untuk itulah dia jauh-jauh datang ke Rijeka, kota yang di masa silam diperebutkan banyak negara. ”Jujur di sini (Kroasia) lebih profesional. Dari junior sampai senior, materi latihannya sudah terprogram,” beber alumnus SMP Negeri 2 Sidoarjo tersebut.

Dia juga menyebut kompetisi di Kroasia menjamin kejelasan klub dan para pemain. ”Mau latihan, mau liga dimulai, tinggal mulai saja, semua sudah siap. Nggak ada drama-drama,” ungkapnya.

Untuk alasan yang kurang lebih sama pula Witan Sulaiman (Radnik Surdulica/Serbia), Bagus Kahfi (FC Utrecht/Belanda), dan sebelumnya Egy Maulana Vikri (Lechia Gdansk) betah di Eropa. Persaingan tentu saja berat, semua harus diurus sendiri, dan mesti secepatnya beradaptasi.

Tapi, gemblengan itulah yang justru mendewasakan mereka. Mental terlatih kuat. Belum lagi terasahnya fisik dan teknik. Semuanya itu bakal sulit mereka dapat di tanah air, apalagi ketika kompetisi tidak berputar sejak awal pandemi Covid-19 tahun lalu.

”Saya nggak bisa bayangkan nggak ada jam pertandingan dan tiba-tiba ada event internasional. Jadi, ya saya beruntung masih bisa menikmati pertandingan di sini (Kroasia),” kata Bryli.

Jauh dari Rijeka, di Ansan, kota di pinggiran metropolitan Seoul, bintang muda Indonesia lainnya, Asnawi Mangkualam, juga merasa seberuntung Bryli. Meski sebenarnya di klubnya sekarang, Ansan Greeners, dia dibayar lebih kecil ketimbang saat di PSM Makassar.

Ansan Greeners berada di strata kedua Liga Korea Selatan (K-League). Tapi, sekalipun bukan kompetisi teratas, standar permainan, kualitas antartim, dan profesionalisme pengelolaan sangat terjaga.

Baca :  Satu Lagi Pemain Indonesia Bakal Merumput di Korea Selatan - AEOmedia

”Berada di sini saya tahu bahwa saya harus bersaing dengan pemain Korea dengan meningkatkan stamina dan kecepatan saya. Jadi, nggak ada canda-canda. Semua harus serius dan disiplin saat latihan,” jelasnya.

Fasilitas yang disediakan Ansan Greeners juga sangat mendukung kariernya. Dia tinggal di apartemen. Green Wolves –julukan Ansan Greeners– juga punya pusat latihan serta gym berkualitas.

Yang lebih penting, Green Wolves memberinya waktu bermain yang sangat memadai. Jadwal K-League 2 hingga Piala FA-nya Korsel tepat waktu.

Tak terbayangkan olehnya seandainya tak berani mengambil keputusan keluar dari zona nyaman dengan bergabung bersama Ansan Greeners. Kemampuannya dari berbagai sisi pasti akan anjlok karena sudah satu setengah tahun tak ada kompetisi di tanah air.

”Di sini juga banyak teman baru, bisa hidup mandiri, belajar budaya orang. Saya sangat bersyukur karena orang-orang di sini menerima saya dengan baik,” papar bek kanan 21 tahun itu.

Seoul bisa dicapai dengan cepat dari Ansan memakai kereta jika Asnawi ingin menyegarkan pikiran atau sejenak mendapatkan suasana berbeda. Dia ingin bertahan selama mungkin di Negeri Ginseng itu: membawa Green Wolves promosi dan bermain di K-League 1.

”Soal gaji, asal saya bisa menunjukkan performa terbaik pasti akan mengikuti,” katanya.

Di Rijeka, Bryli dan David tentu juga berharap kontraknya kelak diperpanjang, lalu bisa menembus skuad utama HNK. Itu anak tangga terbaik untuk meraih mimpi yang lebih besar: dari tepian Teluk Kvarner, sebelum matahari jatuh di Laut Adriatik, menuju Milan. Atau Muenchen. Atau…

Artikel di kutip dari berbagai sumber dan kami rangkum kembali dengan bahasa yang sebaik mungkin. dan jangan lupa share postingan ini ke sosial media kalian.
Repost for: AEOmedia.com

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *