USTR atau kantor perwakilan dagang AS telah mencoret nama Indonesia dari daftar negara berkembang. Dan telah menjadi negara maju dalam urusan perdagangan International.

Beberapa negara yang dicoret dari daftar negara berkembang adalah China, Brazil, India, Afsel dan naik level ke negara maju.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Internasional (Kadin) Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani mengatakan hal ini dapat mengancam posisi Indonesia atas fasilitas Generalize System of Preference (GSP) atau keringanan bea masuk impor barang ke Amerika Serikat (AS). Hal itu karena Negera Paman Sam tersebut mencoret Indonesia dari daftar negara berkembang.

“Kalau berdasarkan aturan seharusnya negara maju nggak bisa dapat GSP,” katanya kepada detikcom, Minggu (23/2/2020).

Dia menjelaskan fasilitas GSP hanya diberikan untuk negara-negara kurang berkembang (LDCs) dan negara berkembang.

“Fasilitas GSP hanya diberikan kepada negara-negara yang mereka anggap sebagai LDCs dan negara berkembang,” sebutnya.

Terlepas dari dicoretnya Indonesia dari negara berkembang, saat ini AS sedang mereview fasilitas GSP untuk Indonesia. Harapannya negara tersebut akan kembali memberikan keringanan bea masuk impor tersebut.

GSP adalah sebuah sistem tarif preferensial yang membolehkan satu negara secara resmi memberikan pengecualian terhadap aturan umum Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

“Kalau misalnya jadi negara maju kan nanti impact-nya itu kan bisa ke GSP. Saat ini kan Indonesia sedang di-review GSPnya. Dan itu kelihatannya ya semoga bisa lancar ya. Jadi bisa GSP-nya nggak dicabut,” tambahnya.