Pentingnya menjaga privasi nomor ponsel dan mengamakannya adalah tanggung jawab sang pemilik. Karena sekarang ini banyak sekali modus yang digunakan untuk mencuri. Salah satunya lewat nomor ponsel dan membobol akun mobile banking.

Kasus pembobolan rekening bank via nomor ponsel, yang terjadi beberapa waktu ini misalnya. Nomor SIM card yang diambil alih diduga dipakai untuk mengakses dan menguras saldo dalam mobile banking, yang kemudian oleh pelaku mentransfer ke hampir 100 rekening miliknya.

Informasi saja, dalam transaksi perbankan, terutama internet banking dan mobile banking, perbankan biasanya mengirimkan password khusus ke nomor ponsel yang dimiliki nasabah atau yang disebut OTP (One Time Password).

Nantinya OTP akan dikirim melalui sms ke nomor ponsel sebagai alat konfirmasi bahwa itu adalah pemiliknya. Nah, autentikasi dengan nomor ponsel ini digunakan sebagai jembatan awal untuk pelaku bisa masuk ke akun mobile banking milik korban.

Pengamat IT, Rudi Adianto mengatkaan sistem keamanan pada mobile banking saat ini belum termasuk aman. Menurutnya, autentikasi melalui nomor ponsel yang digunakan mobile banking harus ditambah dengan mekanisme perlindungan yang lainnya.

Rudi berujar kalau dilihat dari kebanyakan kasus pembobolan mobile banking di Indonesia itu berawal dari nomor ponsel yang diambil alih. “Apakah mobile banking aman? Dengan macam-macam kasus yang terjadi saat ini saya berani bilang tidak,” tegas Rudi kepada CNBC Indonesia, (20/1/2020).

Maka dari itu, Rudi menyarankan agar pihak perbankan menambah sistem keamanan mobile banking seperti menggunakan teknologi identifikasi device id.

Selain itu, ia menuturkan pihak perbankan bisa membuat kebijakan jika transaksi dilakukan melalui device id baru, maka akan diberlakukan waktu untuk tidak bisa transaksi selama 3 hari.

“Bahkan untuk bank, saya kira bisa diberikan opsi untuk lock device id. Misalkan kalau saya ganti hp saya harus daftar ulang dengan datang ke bank,” tutur Rudi.