Indonesia Bisa Jadi ‘Raja’ Baterai Mobil Listrik Asal Melakukan Hal Berikut!

0
24
Indonesia bisa jadi raja baterai mobil listrik

AEOMEDIA.COM – JAKARTA – Indonesia digadang-gadang menjadi produsen baterai mobil listrik terbesar di dunia. Hal ini berkaitan dengan melimpahnya bahan baku baterai listrik. Bahkan raksasa produsen mobil listrik terbesar di dunia, Tesla, telah menjajagi kemungkinan membuat pabrik baterai mobilnya di sini.

Indonesia mempunyai potensi besar untuk menjadi produsen kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB). Potensi tersebut pun telah dilirik banyak investor asing maupun dalam negeri.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan, langkah penting selanjutnya adalah merancang bentuk kerja sama agar pemanfaatan sumber daya yang ada bisa lebih optimal. Di samping itu, konsistensi kebijakan pemerintah juga diperlukan agar pengembangan kendaraan listrik di Tanah Air berhasil.

Baca :  Ini Harga Mobil Listrik Tesla Model 3 yang Dipakai jadi Kendaraan Patroli Korlantas

“Sering kali yang menjadi kelemahan kita ada konsistensi kebijakan. Hambatan utama selama ini menurut saya adalah tidak adanya konsistensi kebijakan,” ujarnya pada Market Review IDX Channel, Jumat (19/2/2021).

Dia melanjutkan, ketidakkonsistenan kebijakan akan berpengaruh terhadap minat investasi asing. Hal ini membuat investor menjadi ragu untuk berinvestasi di Indonesia karena regulasi yang sering berubah.

“Pada awal tahun 2011, kita sangat bersemangat mengembangkan mobil listrik. Tetapi kemudian itu menjadi redup. Pola-pola seperti ini yang harus kita hindari. Jangan sampai kita semangat, kemudian redup lagi,” tuturnya.

Sementara itu, keputusan perusahaan mobil listrik asal Amerika Serikat, Tesla Inc yang memilih membangun pabrik di India memunculkan pertanyaan terkait negosiasi Tesla dengan pemerintah Indonesia. Meski dalam perkembangannya Tesla tidak punya rencana membangun pabrik mobil listrik di Indonesia dan lebih tertarik berinvestasi pada pengembangan sistem penyimpanan energi atau Energy Storage System (ESS).

Baca :  Honda Cina Memamerkan Konsep Mobil Listrik di Auto China 2020

Piter menuturkan, Tesla bukanlah satu-satunya leader dalam pengembangan kendaraan listrik. Untuk itu, Indonesia tidak boleh berfokus pada satu pihak saja.

“Saya kira tidak kecolongan karena kita tahu sejak awal minat investasi Tesla ke Indonesia bukan dalam bentuk pabrik mobil tetapi dalam bentuk ESS. Kalau itu tidak terwujud juga berarti pemerintah tidak cukup tanggap untuk mengantisipasi investasi Tesla di Indonesia,” tandasnya.

Keinginan Tesla bekerja sama dengan Indonesia pada industri ini harus benar-benar disambut dengan baik oleh pemerintah RI, karena peluang di masa yang akan datang akan sangat besar dan menjanjikan.

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here