Ada Sebuah mitos cukup mengerikan bagi siapapun presiden yang mengunjungi kota Kediri bakalan lengser dari jabatannya.

Dan hal ini mendapatkan perhatian dari publik setelah sekretaris kabinet Pramono Anung melarang Presiden JOkowi untuk bertandang ke kota tersebut. Pramono khawatir Jokowi bernasib seperti Abdurrahman Wahid atau Gus Dur jika menginjakkan kaki ke Kediri.

Menanggapi hal itu, Pengamat Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Purnawan Basundoro mengatakan apa yang dikatakan Pramono tersebut bagian dari kepercayaan masyarakat Kediri yang sudah mengakar sejak dahulu.

“Memang sebagian masyarakat itu kan masih percaya dengan hal semacam itu, dan itu memang kepercayaan yang berakar jauh pada tradisi kita,” kata Purnawan, kepada CNNIndonesia.com, Senin (17/2).

Namun demikian, Purnawan melihat mitos yang dipercaya masyarakat tersebut belum tentu mengandung kebenaran. Sebab selama ini ia belum menemukan catatan sejarah atau kitab yang membenarkan Kediri sebagai kota kutukan bagi penguasa.

Salah satu literatur yang dipercaya memuat tentang kutukan tersebut adalah Babad Khadiri, sebuah manuskrip kuno yang menceritakan tentang kejayaan kerajaan Kediri, karangan Mas Ngabei Purbawidjaja. Namun, Purnawan tak yakin betul kutukan itu dikisahkan di dalamnya.

“Saya belum pernah membacanya, Babad Khadiri seperti apa isinya terkait dengan kutukan itu. Tapi memang setahu saya seperti misalnya ramalan tentang Jayabaya, kalau dalam kajian sejarah itu bersifat post-factum, jadi setelah kejadian barulah orang cari referensi masa lalunya,” kata dia.

Sejumlah Presiden RI yang lengser keprabon dikaitkan dengan kunjungan mereka ke tanah Kediri. Mulai dari Sukarno, BJ Habibie, dan Gus Dur. Sebagai catatan, Habibie tak kembali menjadi presiden setelah berakhir masa tugasnya karena memang tidak ikut konstestasi Pemilu 1999. Sementara Seoharto yang menjadi Presiden 32 tahun tak pernah menginjakkan kaki di Kediri namun tetap lengser pada 1998.

Meski begitu, mitos itu ‘terpatahkan’ oleh Susilo Bambang Yudhoyono yang mengunjungi Kediri dua kali pada 2007 dan 2014 lalu.

“Saya kira tidak selamanya benar, terbukti SBY dulu ke sana, ke Kediri pada saat Gunung Kelud meletus, datang ke pengungsian. Artinya kalau kita mengacu pada itu, ya tidak benar bahwa presiden yang datang ke Kediri itu otomatis akan lengser,” katanya.

Namun demikian, Purnawan mengaku ia tetap menghargai kultur masyarakat Jawa yang begitu teguh berpegang pada kepercayaan yang ada di sekitarnya. Masyarakat Jawa juga punya alasan kuat hingga mempertahankan tradisinya.

“Ya memang kalau kemudian kita melihat kepercayaan masyarakat yang semacam itu kalau niteni (mengamati) bahwa setelah kejadian ini kok kemudian lengser, ya orang kemudian jadi percaya. Itulah logika masyarakat kita, itu juga kita tidak bisa istilahnya membantah,” kata dia.

Atas dasar itu, ia pun meminta Jokowi tak terlalu memikirkan mitos tersebut. Mitos-mitos semacam tersebut hanya akan merugikan masyarakat di daerah, lantaran akan tertempel stigma negatif.

“Sebagai seorang pemimpin, Pak Jokowi tidak boleh ragu untuk mengunjungi daerah manapun, karena kalau misalnya presiden itu ragu, semacam itu, nanti daerah akan terkena stigma, bahwa ini daerah yang tidak dikunjungi, dianggap tidak sama tapi dari aspek negatifnya itu yang tidak boleh terjadi,” katanya.

Banyak Tafsir atas Peninggalan Sejarah

Sementara itu sejarawan muda, Adrian Perkasa mengatakan mitos larangan presiden atau penguasa untuk datang ke Kediri muncul salah satunya karena peninggalan kerajaan masa lalu yang hilang, rusak, atau tertimbun dan hingga kini belum ditemukan, sehingga menyulitkan generasi sekarang untuk mengidentifikasi sejarah di masa lalu.

Adrian yang juga Dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unair ini mengatakan, maka tak heran mengapa kemudian banyak timbul tafsiran maupun interpretasi terhadap mitos-mitos oleh masing-masing individu dan kelompok yang berbeda. Apalagi setiap masyarakat memiliki kepercayaan dan pemikirannya sendiri-sendiri.

Daerah Kediri memang memiliki catatan sejarah yang panjang. Terutama pasca Raja Airlangga berkuasa di Jawa, Abad XI Masehi. Kemudian berkembang pesat di masa Raja Kameswara hingga Prabu Jayabaya.

Di masa kerajaan Singasari hingga Majapahit, wilayah Daha (Kediri) selalu menjadi daerah prioritas dan dijadikan ibu kota kerajaan. Seperti misalnya Raja Kertanegara yang diangkat sebagai pangeran atau raja muda di Kediri, sebelum menduduki tahta sebagai raja Singasari.

Pun demikian dengan karir Gajah Mada yang dimulai dari Kediri sebelum diangkat sebagai patih Majapahit. Bahkan di akhir Masa Majapahit, raja memindahkan ibu kota kerajaan itu ke Kediri.

“Jadi sebenarnya secara historis Kediri justru penting artinya. Bahkan di jaman kolonial pun dijadikan Kota Karesidenan,” kata dia.

Meski belum banyak ditemukan candi batu peninggalan kerajaan ini, tapi peninggalan-peninggalan berupa karya sastra sangat melimpah. Termasuk Babad Khadiri. Namun ia menampik jika Babad Khadiri dikaitkan dengan munculnya mitos larangan presiden ke Kediri.

“Nah Babad Khadiri itu sendiri yang bermasalah secara historis. Pertama, Babad itu ditulis pada abad XIX Masehi. Kedua, mengaitkan (mitos dengan) hilangnya peninggalan purbakala Kediri. Ketiga kalau memang benar kata-kata (mitos) ini, yang dianggap musuh oleh raja di Kediri itu siapa?” katanya.