Lulus S1 pun tidak, Refly: Dunia pasti tertawa kalau tahu Mega pimpin BRIN – AEOmedia

  • Whatsapp
Refly Harun. Foto: Ist.

AEOmedia.com | Berita Terkini : Lulus S1 pun tidak, Refly: Dunia pasti tertawa kalau tahu Mega pimpin BRIN, pada kesempatan kali ini AEOmedia akan membahas topik lain yaitu tentang Lulus S1 pun tidak, Refly: Dunia pasti tertawa kalau tahu Mega pimpin BRIN, Kami merangkum berita terbaru ini dari beraneka ragam sumber untuk kami sajikan ke pengunjung setia kami.

Pakar hukum tata negara Refly Harun turut mengomentari dilantiknya Megawati Soekarnoputri alias Mega sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Menurut dia, kalangan internasional pasti akan tertawa jika Indonesia maju memperkenalkan inovasi dan risetnya ketika tahu siapa di balik BRIN sebenarnya.

Read More
Baca :  Tak Harus Diisi ASN, BRIDA Perlu Segera Dibentuk
 - AEOmedia

“Kalangan internasional (dunia) pasti akan tertawa kalau sewaktu BRIN maju, apalagi kalau tahu Ketua Dewan Pengarahnya datang dari politik. Dia tak punya pengalaman riset sama sekali, bahkan maaf kata juga, lulus S1 pun tidak, walaupun belakangan akhirnya mendapat gelar doktor honoris causa dan profesor,” kata dia di saluran Youtube-nya, dikutip -, Kamis 14 Oktober 2021.

Refly lantas membacakan sebuah adagium yang tepat dengan fenomena Mega di BRIN. “Ada sebuah adagium, kalau urusan itu tak diserahkan pada ahlinya maka tunggulah kehancurannya.”

Mega kok pimpin BRIN

Menurut dia, banyaknya orang yang mengkritik adanya Mega di BRIN terbilang masuk akal. Sebab menjadi seolah bukan sebagai tujuan utama waktu BRIN dihadirkan, yakni memiliki otonomi untuk mengembangkan inovasi dan riset nasional.

Yang justru terjadi kini, BRIN yang berada langsung di bawah Presiden Jokowi ini justru menyerahkan kursi terhormat kepada orang yang tak punya latar belakang keilmuan riset dan teknologi.

Refly Harun. Foto: Ist.

Terlebih, negara sendiri merogoh pendanaan besar untuk BRIN sampai akhirnya punya cabang di tiap daerah. Dengan demikian, kata Refly, kini Mega memangku dua jabatan penting baik di Dewan Pengarah BPIP dan BRIN.

Baca :  Kepala BRIN: Produk Riset Miliki Nilai Tambah Guna Menunjang Ekonomi - AEOmedia

“Kalau BPIP okelah itu bisa dianggap mainan politiknya Mega untuk dapatkan sebuah pengakuan dari negara seputar kedudukan tinggi di negara dengan level setingkat menteri atau lebih. Tetapi ternyata itu tidak cukup, diciptakan lah BRIN, yang secara psikologis justru juga di atas menteri.”

“Wakil ketuanya menteri keuangan, lalu menteri bapennas, itu artinya dia bisa lebih berkuasa dari menteri keuangan sekalipun. Makanya wajar kemudian datang kritik bertubi-tubi,” katanya.

Tantangan BRIN ke depan

Kritik bahkan juga disuarakan loyalis Jokowi yang juga cendikiawan muslik Azyumardi Azra. Dia bilang, seharusnya yang menjadi ketua dewan pengarah BRIN adalah seorang peneliti andal yang juga diakui dan dihormati kalangan internasional.

Ilustrasi teknologi dan BRIN. Foto: Ist.
Ilustrasi teknologi dan BRIN. Foto: Ist.

Karena ini penting dalam kaitannya dengan kerja sama internasional ke depan. Selain itu, beberapa kalangan juga merasa tidak yakin BRIN akan mampu melakukan konsolidasi di sisa akhir pemerintahan Jokowi. Maka itu, mau tidak mau, eksistensi BRIN kemudian akan lebih banyak disandarkan pada pemerintahan Jokowi.

Baca :  Pemerintah Kejar Target Dana Abadi Riset Rp 100 Triliun - AEOmedia

“Kalau berakhir, bisa jadi presiden yang baru kalau tidak dalam arus yang sama, rentak tari yang sama, akan banyak mengubah struktur kelembagaan yang ada. Seperti di BPIP dan BRIN, akan dilakukan perombakan besar-besaran.”

“Kalau sudah begini jangan harap lembaga riset ini akan mumpuni dan bisa menjadi landasan, kerangka yang kuat dalam riset dan inovasi di negeri ini,” tutup Refly.

Artikel di kutip dari berbagai sumber dan kami rangkum kembali dengan bahasa yang sebaik mungkin. dan jangan lupa share postingan ini ke sosial media kalian.
Repost for: AEOmedia.com

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *