Korban Meninggal Karena virus Corona terus meningkat setiap harinya di China. Sampai dengan Rabu 12 Februari 2020 korban sudah mencapai 1110 di provinsi Hubei, setelah ada laporan 94 korban baru meninggal.

Provinsi Hubei yang beribukota Wuhan merupakan pusat wabah berada dan merupakan wilayah yang paling terdampak. Virus corona jenis baru ini ditemukan di sebuah pasar hewan di kota Wuhan pada bulan Desember.

Sementara itu jumlah kasus baru juga terus meningkat. “Ada 1.638 kasus baru di provinsi pusat,” kata komisi kesehatan Hubei dalam laporan hariannya, mengutip laporan AFP, Rabu.

Ini menjadikan total kasus di China mencapai lebih dari 33.000 kasus. Sedangkan jika menghitung dalam skala global, kasus virus korona yang dikonfirmasi sekarang setidaknya 44.138 kasus.

Komisi Kesehatan Nasional China diperkirakan akan merilis angka untuk semua provinsi di China nanti, lapor CNN International, Rabu.

Sementara itu, belum kelar corona, sebuah wabah penyakit misterius kini menyerang Nigeria. Pemerintah mengumumkan ratusan orang sudah terinfeksi.

Bahkan 15 orang meninggal dalam waktu kurang dari seminggu. Wabah penyakit ini disebut pemerintah sebagai “epidemi aneh” di mana penderitanya akan mengalami muntah, bengkak, dan diare.

Sebagaimana dilansir dari The Independent, penyakit ini mulai mewabah, akhir Januari lalu. Tepatnya di negara bagian benue, sebelah tenggara ibu kota Abuja.

“Saat viral 3 Februari lalu, jumlah penderita meningkat menjadi 104 orang,” kata Senator Nigeria Abba Moro, dalam sebuah surat kabar Daily Post.

Ia mengatakan korban wabah ini bisa meninggal dalam waktu 48 jam setelah tertular. Karenanya, ia mendesak adanya bantuan ahli untuk mencari tahu soal penyakit ini.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Nigeria Osagie Ehanire meyakini penyakit tersebut bukan berasal dari virus Ebola atau Lassa. Keduanya merupakan virus yang berpotensi fatal yang menyebar di Afrika Barat.

Ia pun meyakini, virus ini bukan corona yang kini mewabah di China. Corona sendiri berpusat di Wuhan, Provinsi Hubei, China, dan telah menewaskan 1000 orang lebih.

Menurutnya Pusat Kontrol Penyakit di Nigeria (NDCD) tengah menginvestigasi soal ini. Pemerintah, menurut BBC, mencurigai bahan kimia yang digunakan untuk menangkap ikan, mungkin bertanggung jawab pada penyakit ini.