Mencuatnya kabar tentang bakalan didepaknya Rossi dari kursi rider Utama Yamaha Factory MotoGP semakin keras terdengar. Sang Juara dunia 9 kali itu itu bakal menyelesaikan kontraknya dengan Yamaha pada tahun 2021.

Posisi Valentino Rossi bakal digantikan oleh rider muda dari tim Petronas Yamaha SRT, Fabio Quartararo. Performa Quartararo yang meyakinkan pada musim 2019 menjadi salah satu alasan Yamaha melakukan manuver tersebut.

Keputusan tim pabrikan Yamaha itu terhitung berani. Rossi yang sejatinya adalah legenda, seperti dipecat secara halus oleh manajemen.

Padahal selama ini, Valentino Rossi belum menunjukkan tanda-tanda hendak mengakhiri kariernya sebagai pembalap. Terbaru, muncul rumor Rossi tengah bernegosiasi dengan Aprilia.

Kabar tersebut kali pertama disampaikan oleh pengamat MotoGP, Carlo Pernat. Bukan tidak mungkin kabar itu benar, Aprilia sedang membutuhkan pembalap yan bisa membuat tim bangkit.

“Bagi saya, Aprilia jika kembali ke posisi atas, bisa memberikan semua motor yang diinginkan Valentino Rossi untuk VR46, untuk ke MotoGP,” kata Pernat, seperti dilansir Tuttomoriweb, Rabu (5/2/2020).

Di sisi lain, setidaknya empat prediksi alasan mengapa tim pabrikan Yamaha mengumumkan kelanjutan masa depan Valentino Rossi lebih awal alias jelang dimulainya perhelatan MotoGP 2020. Apa saja alasan itu? Berikut rangkumannya.

1. Regenerasi Pembalap
Per 16 Februari 2020, Valentino Rossi bakal menginjak usia 41 tahun. Usia yang tak bisa dibilang muda untuk seorang pembalap profesional.

La Gazzetta dello Sport sempat menebak-nebak arah gerak Yamaha dalam beberapa tahun ke depan. Yamaha seperti ingin menerapkan misi regenerasi pembalap, mirip dengan apa yang dilakukan Repsol Honda.

Saat ini, tim pabrikan Repsol Honda juga diisi oleh rider muda yakni Marc Marquez dan adiknya, Alex Marquez. Tampaknya, strategi Monster Energy Yamaha juga bakal ke arah sana.

2. Performa Menurun
Tak dapat dipungkiri, performa Valentino Rossi tak begitu menyakinkan musim lalu. Juara dunia sembilan kali itu hanya menempati posisi ketujuh klasemen akhir.

Di sisi lain, Fabio Quartararo, yang musim lalu masih berstatus rookie mampu tampil optimal. Rider berusia 20 tahun berhasil finis di posisi lima dengan tujuh kali naik podium.

Naiknya performa Quartararo itu tak ingin disia-siakan Yamaha. Fabio Quartararo disebut bisa jadi prospek menjanjikan Yamaha saat ini dan di masa yang akan datang.

3. Siapkan Tempat Baru untuk Sang Legenda

Sebenarnya, masih ada dua opsi yang bisa ditawarkan Yamaha untuk Valentino Rossi. Opsi pertama, The Doctor membalap untuk tim satelit Petronas Yamaha SRT dan tetap mendapat motor spesifikasi tim pabrikan.

Opsi kedua, Rossi pensiun dan Yamaha akan ditawari berkolaborasi dengan Yamaha dan menjadi brad ambassador. Atau yang ketiga, mempromosikan The Doctor ke jajaran manajerial tim.

Pilihan terkahir bisa jadi opsi yang paling pas buat sang pembalap. Sudah selayaknya, Valentino Rossi mendapat apresiasi tinggi dari Yamaha atas sumbangsih prestasinya bagi tim.

4. Supaya Kembali Kompetitif Hadapi Dominasi Honda

Yamaha membutuhkan perubahan ekstrem supaya bisa kembali kompetitif, terutama menghadapi dominasi Honda. Pada musim lalu, Honda benar-benar mendominasi melalui Marc Marquez.

Bukan hanya menyabet gelar juara dunia pembalap, tapi juga konstruktor. Dari 19 seri, Baby Alien berhasil memenangi 12 seri di antaranya. Yamaha, Ducati, maupun Suzuki tak pernah benar-benar menjadi pengganggu dominasi Honda.

Yamaha butuh perbaikan besar-besaran, terutama dari kualitas motor. Ternyata, Yamaha tampaknya juga merasa perlu mengganti amunisi pembalap. Duet Vinales-Rossi tampaknya dinilai kurang kuat untuk berpacu melawan duo Marquez.

Mau tak mau, Yamaha mengambil langkah ekstrem dengan melengserkan Rossi dari kursi tim pabrikan.