KOndisi antara Iran Dan Amerika Serikat semakin memanas, ternyata hal ini juga berpengaruh ke pasar uang Dunia. Dimana Kondisi Dolar Amerika Serikat tampak menurun, terutama terhadap Rupiah.

US$ 1 dibanderol Rp 13.930 kala pembukaan pasar spot. Rupiah menguat 0,04% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Kemarin, rupiah dkk di Asia ramai-ramai melemah karena sentimen ancaman perang AS-Iran. Sejak pekan lalu, hubungan kedua negara memang memburuk, bahkan sampai memakan korban jiwa.

Iran berduka karena pentolan militer mereka, Qasim Soleimani, tewas terbunuh oleh serangan drone AS di bandara Baghdad, Irak. Presiden AS Donald Trump menyebut bahwa The Shadow Commander (julukan Soleimani) adalah otak di balik serangan Iran terhadap warga dan fasilitas Negeri Adidaya.

“Jenderal Qasim Soleimani telah membunuh dan melukai ribuan warga AS selama beberapa waktu, juga berencana untuk membunuh lebih banyak lagi. Namun dia ketahuan! Dia secara langsung maupun tidak langsung bertanggung jawab atas kematian jutaan orang!” cuit Trump di Twitter beberapa waktu lalu.

Namun Teheran tentu tidak terima dan berjanji akan membalas dengan setimpal, bahkan lebih berat. Ribuan, bahkan mungkin jutaan orang, yang mengantarkan jenazah Soleimani ke peristirahatan terakhir menyerukan slogan klasik tetapi sangat mengancam. Death to America.

“Trump Gila, jangan berpikir semua sudah selesai dengan wafatnya ayah saya. Kematian ayah akan membawa hari yang gelap bagi AS,” tegas Zeinab Soleimani, putri Qasim Soleimani, dalam pidato di televisi nasional seperti diberitakan Reuters.

Akan tetapi, hingga saat ini belum jelas seperti apa counter-attack dari Iran. Situasi ini yang membuat pelaku pasar bisa menghembuskan napas barang sejenak.

Ini terlihat dari bursa saham AS di Wall Street (New York) yang ditutup menguat dini hari tadi waktu Indonesia. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 0,24%, S&P 500 bertambah 0,35%, dan Nasdaq Composite terangkat 0,56%.

“Risiko konflik memang meningkat. Namun pada kenyataannya, mungkin hanya akan sebatas pertempuran-pertempuran kecil yang sporadis. Risiko konflik yang sangat panas rasanya kecil karena Iran mungkin tidak akan melakukan respons yang membuat situasi tereskalasi signifikan,” papar Tom Porcelli, Kepala Ekonom Wilayah AS di RBC Capital Markets, dikutip dari Reuters.

Apalagi beredar kabar bahwa AS bersedia untuk menarik pasukannya dari Irak. Dalam surat yang diperlihatkan kepada Reuters, disebutkan bahwa sekitar 5.000 personel militer AS akan meninggalkan Negeri 1001 Malam.

“Dalam rangka menghormati kedaulatan Republik Irak dan seperti permintaan parlemen dan perdana menteri Irak, CJTF-OIR (Combined Joint Task Force-Operation Inherent Resolve) akan melakukan reposisi pasukan dalam beberapa hari ke depan dan bersiap untuk pergerakan selanjutnya. Kami menghormati kedaulatan Anda sehingga menarik diri,” sebut surat itu.

Artinya, ada harapan tensi di Timur Tengah akan mereda seiring penarikan diri pasukan AS di Irak. Provokasi akan minim terjadi sehingga risiko gesekan mengecil.

Situasi ini membuat pelaku pasar bersedia untuk sedikit bermain agresif. Aset-aset berisiko kembali menjadi buruan, sehingga mata Asia berani menguat. Bahkan rupiah menjadi mata uang terbaik ketiga di Asia.