Jepang

AEOMedia.com, Berita Internasional – Banyak sumber berita di Jepang mengeluarkan artikel tentang ‘perceraian corona’ yang tak terhindarkan yang akan terjadi. Namun, Kementerian Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan Jepang baru-baru ini merilis statistik perceraian dari Januari hingga Juni 2020.

Terdapat 100.122 kasus perceraian selama periode itu, yang mungkin terdengar sangat banyak. Ternyata data itu sebenarnya 10.923 lebih sedikit dari pada periode yang sama tahun lalu.

Seolah-olah ada efek perceraian akibat pandemi corona. Namun bukannya perceraian akibat corona yang meningkat, tapi justru perceraian menurun selama karantina.

Ketika karantina di Jepang pertama kali dimulai pada Maret dan April 2020, banyak orang mengira banyak persoalan keluarga meledak karena tekanan selalu bersama.

Dengan semua orang terjebak di rumah yang sama sepanjang hari, banyak orangtua yang bekerja dari ruang tamu. Sementara itu, anak-anak juga bersekolah belajar dari rumah, semua itu diyakini bahwa tingkat perceraian akan meroket.

“Jika pasangan tidak bisa keluar, itu berarti ada saat-saat yang lebih seksi bersama di rumah,” komentar seorang warganet. “Bekerja di rumah memungkinkan komunikasi yang lebih baik dan lebih banyak waktu bersama, jadi masuk akal (perceraian menurun),” imbuh warganet yang lainnya.

“Kami telah melihat cerita sebelumnya tentang bagaimana dikarantina bersama membuat pasangan jatuh cinta lagi, jadi penurunan angka perceraian sepertinya sejalan dengan itu,” kata yang lain.

Perwakilan dari Kementerian Jepang memiliki pandangan yang lebih bijaksana tentang tingkat perceraian yang lebih rendah. “Semua kegiatan masyarakat saat ini terkunci, jadi mungkin ada banyak pasangan yang saat ini sedang menenangkan diri sebelum mereka mengajukan proses perceraian,”